Mendidik dengan Keteladan Rasulullah

Mendidik dengan Keteladan Rasulullah

Sebuah Tausiyah yang disampaikan oleh Kepala SDIT Al Haraki, Bapak Hidayat, S. Pd. I
dalam kegiatan briefing pagi rutin SMPIT Al Haraki.

Dalam bahasa Jawa ada pepatah yang mengatakan bahwa guru digugu lan ditiru yang artinya guru merupakan sosok yang dipercaya dan diikuti. Di masyarakat Sumatera Barat, sosok guru dikenal dengan istilah buya/ abuya/ abi yang artinya ayah, sosok orang tua yang paling dihormati dan disegani.

Kesemua julukan tersebut menunjukan kesepakatan bahwa guru adalah sosok yang mulia yang dihormati dan sosok yang menjadi panutan masyarakat. Tugas kita menjadi sejatinya seorang guru. Karena guru adalah profesi para nabi dan rasul. Di mana nabi dan rasul merupakan sosok teladan untuk guru. Nabi SAW, merupakan sosok guru yang ideal, yang patut kita teladani, guru inspirator di manapun dan kapanpun.

Salah satu murid Nabi SAW, adalah Abu Bakar yang memiliki julukan Asshidiq. Penyematan gelar tersebut karena Abu Bakar merupakan orang pertama yang mempercayai peristiwa Isra Mi’raj. Abu Bakar merupakan sosok pemimpin yang lembut dan bijaksana. Murid kedua adalah Umar bin Khatab. Mendapat julukan Alfaruk, yang artinya pembeda. Umar merupakan sosok sahabat yang tegas, yang menurut sebuah riwayat bahkan setan dan iblispun enggan berpapasan dengan Umar.

Sosok murid ketiga adalah Utsman bin Affan, pemilik dua cahaya. Seorang saudagar kaya dan sukses yang berhati lembut ini mewakafkan seluruh harta kekayaannya untuk agama dan perjuangan Rasulullah. Murid keempat adalah Ali bin Abi Thalib, yang merupakan keponakan Rasulullah. Ali merupakan sosok sahabat Rasulullah yang berakhlak dan berilmu agung. Dalam sebuah hadits Rasulullah menyampaikan bahwa “Saya adalah gudang ilmu dan pintunya adalah Ali”

Keempat murid generasi pertama tersebut telah dilahirkan oleh sosok guru maha agung yakni Nabi Muhammad SAW. Rasulullah berhasil memaksimalkan potensi setiap muridnya sehingga seluruh muridnya menjadi sosok yang menjadi teladan pada masanya.

Guru merupakan sosok perubahan, merubah muridnya dari kegelapan menjadi terang benderang, merubah sosok yang tidak tahu menjadi tahu. Guru yang hebat akan menghasilkan murid yang hebat. Kehebatan seorang guru tentu tidak bisa dicapai dengan instan, namun membutuhkan proses yang panjang, namun proses itu harus dijalani.

“Melihat itu penting, namun mendengarkan jauh lebih penting, tetapi memperhatikan sangat-sangat lebih penting, tapi mengerti sangat jauh lebih penting”